penelitian tentang tanaman kina

Penelitian Kina



1. Klon Kina Unggul Baru
Klon-klon kina unggul baru yang telah ditemukan adalah QRC (Quinine Research Centre), CKB (Cikembang), dan Cna (Cinchona). Klon perlu di-kembangkan di kebun-kebun PTPN, Swasta. Khususnya QRC seri 200. Sedikitnya ada 12 klon yang terbaik dengan kadar SQ7 15-17% dan produksi kulit dapat mencapai 120-150 persen dibandingkan Cib5 (klon yang saat ini meliputi 75 persen lebih dari seluruh klon yang ditanam di kebun kina PT. Perkebunan Nusantara).
Dengan penanaman kina klon unggul baru, potensi produksi tanaman kina dapat ditingkatkan kadar SQ7-nya dari 12-14 persen menjadi 15-17 persen, dan produksi kulit dapat di-tingkatkan menjadi 120-150 persen. Dengan demikian secara keseluruhan potensi produksinya menjadi 123,6-154,5 persen dibandingkan dengan penggunaan klon Cib 5.
Dengan memperhatikan harga garam kina Rp 700 per kg kadar, klon kina baru dengan kadar garam kina 15 persen berarti tiap kg kulit kina kering berharga Rp 10.500. Bila diperhitungkan dengan kenaikan produksi kulit sebesar 23,6-54,5 persen dari produksi klon kina standar (Cib 5 = 10.000 kg kulit kina kering per hektar). Keuntungan yang diperoleh dengan klon kina baru adalah berkisar antara Rp 24.780.000- Rp 57.225.000 per hektar.


2. Bibit Setek Sambung Kina (Cinchona grafted cuttings)
Sebelum ditemukan bibit setek sambung, perbanyakan kina meng-gunakan sistem semai sambung (Cinchona grafted seedling). Untuk semai sambung diperlukan waktu pembibitan cukup lama, yaitu 2,5 tahun. Dengan setek sambung diperlukan waktu hanya 1 tahun. Tetapi untuk setek sambung perlu dipersiapkan kebun induk batang bawah succi (Cinchona succirubra) dan kebun induk batang atas atau entres ledger (Cinchona ledgeriana). Kecuali bahan tanaman dari kebun induk yang sehat, pelaksanaan pem-bibitan setek sambung harus bersih, steril dan akurat Alat-alat harus bersih sehingga terhindar dari kontaminasi.
Keuntungan penggunaan bahan setek sambung adalah:
a) Waktu mendapatkan bibit siap tanam lebih cepat yaitu satu tahun, sedangkan semai sambung 2,5 tahun.
b) Pelaksanaan pembibitannya lebih sederhana.



3. Tanaman Penutup Tanah/Sela
Kina merupakan budidaya gunung, sehingga pencegahan terjadinya erosi, perlu tanaman penutup tanah/sela. Kecuali mencegah erosi tanaman penutup tanah berfungsi sebagai penekan pertumbuhan gulma dan penambahan bahan organik. Sebagai penambah hasil petani kina rakyat dapat memilih jenis-jenis tanaman pe-nutup tanah yang menghasilkan sayuran atau kebutuhan lain, serta tidak mempunyai pengaruh buruk terhadap tanaman kina muda seprti: kentang, kacang merah, bawang daun, dan sosin.



4. Pembentukan Batang
Semula dianjurkan tanaman kina dibuat berbatang satu, lurus, dan sehat. Tetapi, hasil percobaan menunjukkan bahwa produktivitas tanaman kina dapat ditingkatkan dengan mem-bentuknya berbatang lebih dari satu. Setelah umur 10-12 tahun, tanaman berbatang dua hasilnya 120,30 persen, dan yang berbatang empat hasilnya 151,25 persen dari pada yang berbatang satu. Adapun kadar SQ7 tidak dipengaruhi oleh banyaknya batang yang dibentuk. Pembentukan batang sebaiknya tidak lebih dari 4 dan di-bentuk ketika tanaman masih di pem-bibitan. Pembentukan batang dibuat tiga bulan sebelum bibit ditanam dengan cara memotong batang pokok dan me-ninggalkan banyak cabang yang di-inginkan.
Dilihat dari kenaikan produksi kulit jelas menguntungkan, namun ada sedikit pekerjaan ekstra, yaitu mem-bentuk batang di pembibitan. Pem-bentukan ini dilakukan bersama dengan saat pembuatan bibit, karena potongan batang pokok yang diambil baik sekali untuk entres atau bahan setek pucuk.
Produksi kulit kina yang ber-batang satu rata-rata 10.000 kg kulit kering per hektar. Dengan mengguna-kan sistem batang 4 hasil yang akan diraih adalah 151,25 persen x 10.000 kg = 15.125 kg kulit kering. Dengan harga kulit kering Rp 10.500 per kg berarti penerimaannya adalah (15.125-10.500) x Rp 10.500 = Rp 53.812.500 per hektar.



5. Penanganan Pasca Panen Kulit Kina Rakyat Sebagai Bahan baku Industri Farma
Permintaan kininan dan kini-dina dunia tahun 2000 sebesar 400 ton dan 200 ton garam kina atau setara dengan 10.000 ton kulit kina kering. Dalam keadaan normal Zaire dapat menghasilkan sekitar 5000 ton kulit kina kering per tahun, sedangkan negara-negara lain sebesar 1700 ton. Jadi masih ada peluang produksi sekitar 3300 ton kulit kina kering per tahun. Peluang tersebut sebetulnya dapat di-manfaatkan oleh Indonesia. Melihat areal yang ada di perkebunan Negara dan swasta sekitar 4900 ha dan per-kebunan rakyat sebesar 5000 ha, potensi untuk menghasilkan 3500 ton kulit kina kering per tahun dengan kadar kina kering per tahun dengan kadar kina 8 %. Namun kenyataannya pada periode tahun 1994/1995 Indonesia hanya mampu menghasilkan 1000 ton kulit kina kering dengan kandungan kinina 5 %. Penanganan pasca panen kina sejauh ini masih bersifat tradisional. Pengelupasan dilakukan dengan cara pengeprekan (Pengupasan dengan pukulan secara manual). Pengeringan kulit kina dilakukan dengan cara men-jemurnya sinar matahari, kemudian digiling untuk menghasilkan tepung kina dengan ukuran mesh tertentu. Dalam rangka meningkatkan produksi dan mengurangi tingkat kehilangan, maka penanganan pasca panen kulit kina harus diperbaiki. Lama pe-ngeringan kulit kina dapat diper-singkat dengan jalan membuat seragam ukuran partikel bahan olah, sehingga diharapkan kebutuhan ruang pengolahan menjadi lebih kecil. Tiga mesin yang telah dibuat tersebut (Mesin pe-ngupas kulit kina TA 2000) me-rupakan rangkaian mesin pemroses untuk menuju ke proses selanjutnya yaitu penepungan. Mesin pengupas kulit kina berfungsi untuk melepaskan kulit kina dari batangnya, yang me-miliki kapasitas Pengupasan mesin pencacah kulit kina. Kapasitas pen-cacahan adalah 100 kg/jam dengan ukuran mesh 25-35. hasil cacahan ter-sebut kemudian dikeringkan dengan pengeringan kontinyu yang dirancang dengan kapasitas setara.



semoga artikel ini bermanfaat.
by : frans


0 komentar:

Posting Komentar